CEGAH BANJIR DI LINGKUNGAN
SEKOLAH DENGAN BIOPORI
Apa itu Biopori atau lubang resapan? lubang silindris
yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang
ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air
pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir Raziudin
Brata, salah satu peneliti
dari Institut Pertanian
Bogor. Peningkatan
daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan
menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik
yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang
seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini
kemudian disebut dengan nama biopori.
Selain
IPB yang menjadi inventor biopori, berbagai kampus dan sekolah lain kini telah
memulai membuat biopori untuk penghijauan, Salah satu sekolah yang membuat
Biopori untuk pencegahan banjir adalah SMP 3 Pati.
Lubang
Biopori ditemukan oleh Kamir R. Brata, sebetulnya ia sudah meneliti tentang
Biopori sejak mengikuti jenjang perkuliahan S2 bidang studi soil physics di University of Western
yang terletak di Australia mulai tahun 1992. Semula istilah yang dipakai untuk
biopori adalah mulsa vertical (vertical
mulch. Beberapa penelitian yang dilakukannya antara lain“Pemanfaatan Sisa
Tanaman Sebagai Mulsa Vertikal dalam Usaha Konservasi Tanah dan Air pada Pertanian
Lahan Kering di Latosol Darmaga”(tahun 1993), “Efektivitas Mulsa Vertikal dalam
Pengendalian Air Permukaan, Erosi, dan Kehilangan Unsur Hara Pada Pertanian
Lahan Kering di Latosol Darmaga”(tahun 1994), dan “Penggunaan Cacing Tanah
Untuk Peningkatan Efektivitas Mulsa Vertikal Sebagai Tindakan Konservasi Tanah dan Air Terpadu Pada Pertanian Lahan
Kering di Latosol Darmaga”(tahun 1995). Berdasarkan temuan-temuan
penelitiannya, maka tumbuhan lain bertambah manfaatnya juga untuk penyerapan
air, kesehatan tanah, dan penanganan limbah organic.
Penelitian-penelitian tersebut mulai dikenal luas ketika terjadi peristiwa banjir di Jakarta pada tahun 2017. Pada saat itu, kalangan media-massa ramai mencari berbagai solusi untuk mengatasi banjir. Sebagian diantaranya dating dan bertanya ke IPB. Ketika Kamir R. Brata menerangkan teknologi mulsa vertikal tersebut diganti namanya menjadi biopori agar lebih mudah diingat dn diucapkan. Hal tersebut disetujui oleh Kamir R. Brata sehingga sampai sekarang tekhonologi itu lebih dikenal sebagai biopori.
Lubang biopori di SMP 3 Pati sangat banyak lubang itu dibuat oleh para siswa sendiri yang sebelumnya diberi pentunjuk oleh guru pembimbing. Lubang biopori tersebut selalu dirawat dan dijaga.
Manfaat lain Lubang biopori yang terdapat di SMP 3 adalah:
Penyerapan air
Biopori mampu meningkatkan daya penyerapan tanah terhadap air sehingga risiko terjadinya penggenangan air (waterlogging) semakin kecil. Air yang tersimpan ini dapat menjaga kelembaban tanah bahkan di musim kemarau. Keunggulan ini dipercaya bermanfaat sebagai pencegah banjir. Dinding lubang biopori akan membentuk lubang-lubang kecil (pori-pori) yang mampu menyerap air. Sehingga dengan lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm, dengan perhitungan geometri tabung sederhana akan didapatkan bahwa lubang akan memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220,13 cm2. Tanpa biopori, area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm persegi. Biopori telah dibuat di berbagai tempat di Jakarta dengan tujuan untuk mengurangi risiko terjadinya genangan air. Selain di Jakarta, biopori juga dibuat di daerah yang tidak memiliki risiko banjir. Biopori tersebut bermanfaat untuk menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air. Biopori menjadi alternatif penyerapan air hujan di kawasan yang memiliki lahan terbuka yang sempit. Di Puncak, Bogor, biopori dibangun untuk mengembalikan fungsi penyerapan air di kawasan tersebut sehingga kondisi hulu sungai Ciliwung menjadi lebih sehat. Sejak dijadikan sebagai perkebunan teh, kawasan villa, dan kawasan wisata, Puncak mengalami penurunan kemampuan penyerapan air hujan sehingga risiko erosi dan peluapan air sungai di musim hujan menjadi lebih besar. Namun menurut penelitian oleh LIPI, biopori tidak mampu mencegah banjir, namun efektif dalam menangani genangan air. Dengan dimensi pori-pori yang kecil, maka laju penyerapan air dikatakan relatif lebih lambat dibandingkan dengan debit aliran air ketika terjadi banjir bandang. Inventor biopori, Kamir R Brata sendiri pun mengingatkan bahwa fungsi biopori bukan hanya sebagai penyerap air karena hujan dan genangan air tidak terjadi sepanjang tahun, namun sampah organik dapat menumpuk setiap saat dan itulah yang seharusnya menjadi fokus dari biopori. Efektifitas dalam mengatasi genangan air tersebut diyakini juga dapat menangani jentik nyamuk pembawa penyakit.Penanganan limbah organik
Biopori juga dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah organik mengurangi aktivitas pembakaran sampah yang dapat meningkatkan kandungan gas rumah kaca di atmosfer. Setelah proses pengomposan selesai, kompos ini dapat diambil dari biopori untuk diaplikasikan ke tanaman. Kemudian biopori dapat diisi dengan sampah organik lainnya. Sampah organik yang dapat dikomposkan di dalam biopori diantaranya sampah taman dan kebun (dedaunan dan ranting pohon), sampah dapur (sisa sayuran dan tulang hewan), dan sampah produk dari pulp (kardus dan kertas). Sama seperti proses pengomposan secara umum, rasio C/N menentukan kualitas kompos yang akan didapatkan. Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi, sehingga dekomposisi berjalan lambat. Untuk mengatasinya, penambahan limbah yang mengandung unsur N tinggi seperti limbah hewani perlu dilakukan. Namun penambahan demikian perlu dicermati karena terlalu banyak limbah hewani akan menyebabkan kompos menjadi berbau pada tahap awal pengomposan.Selain menggunakan Biopori untuk penanganan limbah Organik SMP 3 Pati juga mendirikan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL).
Kesehatan tanah
Biopori juga dapat meningkatkan aktivitas organisme dan mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan sekitar. Organisme dan mikrorganisme tanah memiliki peran penting dalam ekologi diantaranya sebagai detritivora dan pengikat nitrogen dari atmosfer. Pengikatan nitrogen mampu meningkatkan kadar nitrogen tanah sehingga penggunaan pupuk anorganik urea akan berkurang. Kesehatan tanah sangat dibutuhkan karena di lingkungan SMP 3 Pati ditanami banyak pepohonan yang membutuhkan tanah subur.Cara membuat lubang Biopori:
1.
Buat
lubang silindris sedalam 10 cm kedalam. Kurang lebih 100 cm atau tidak sampai
melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antara lubang 50-100
cm.
2.
Mulut
lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3cm dengan tebal 2 cm
disekeliling mulut lubang.
3.
Isi
lubang dengan limbah organic yang berasal dari limbah dapur, sisa tanaman,
dedaunan, dan pangkasan rumput
4.
Sampah
organik perlu ditambahkan kedalam lubang yang isinya sudah berkurang dan
menyusut akibat proses pelapukan
5.
Kompos
yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau
bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan